Piciknya ”Demokrasi ala Melayu” versi Effendi Simbolon

Beberapa hari terakhir terdapat realita getir dalam dinamika komunikasi politik di Tanah Air. Paling tidak untuk sebagian masyarakat dari etnis yang bahasa ibunya diadopsi menjadi bahasa utama negara ini, yaitu etnis Melayu.

Pernyataan seorang politikus ternama dari partai yang sedang berkuasa, menyatakan keluarnya tiga partai politik dari Koalisi Merah Putih (KMP) yang mengarah ke Koalisi Indonesia Hebat (KIH) tak lebih seperti ”Demokrasi ala Melayu” yang tidak memiliki nilai-nilai idealisme dalam berdemokrasi. Effendi Muara Sakti Simbolon, sang politikus tenar ini mungkin lupa bahwa perpindahan dukungan partai politik pada suatu kelompok koalisi tertentu adalah hal yang wajar dan sah.

Hal itu mengacu pada iklim politik yang masih berorientasi kekuasaan, kepuasan, dan ekspansi- ekspansi tertentu untuk kepentingan sumber daya ekonomi semata. Dalam mengidentifikasi suatu wilayah tertentu yang memunculkan istilah demokrasi ala Barat dan demokrasi ala Timur, sangat tidak relevan menjadi dasar ukuran Effendi Simbolon untuk mengambil potret dari polarisasi geopolitik.

Demokrasi ala Melayu yang ”dihina” Effendi Simbolon sesungguhnya sangat menyesakkan masyarakat Melayu. Terlebih lagi bila diungkap bahwa pola-pola demokrasi ala Melayu ini jauh dari nilai-nilai idealisme. Menjadi tidak jelas mengapa serangan ini diarahkan kepada etnis Melayu. Apakah karena banyak etnis Melayu yang ogah memilihnya ketika tampil di pemilihan gubernur Sumatera Utara pada 2013 lalu? ***

Effendi Simbolon dengan demokrasi ala Melayu-nya telah menciptakan suatu terminologi baru dalam pendefinisian arti demokrasi yang berbasis kepada etno-democracy centric atau demokrasi berdasarkan etnis tertentu, yang sebenarnya masih sulit untuk dipahami dengan logika dan pendekatan teori politik.

Bahkan jika Effendi Simbolon memberikan dikotomi berdasarkan etnis, maka akan muncul puluhan etnis di Indonesia dengan ”gaya dan cara demokrasi yang berbedabeda. Bila pola pendekatan ini yang digunakan maka akan muncul terminologi demokrasi ala Melayu, ala Batak, ala Jawa, ala Padang, ala Papua, ala Jawa Timur, dan etnis-etnis lainnya.

Sesungguhnya terminologi ini dapat menjadi pemantik awal bagi disharmonisasi bangsa seperti yang dicita-citakan pendiri bangsa kita. Menariknya lagi, Effendi Simbolon berkilah mengartikan demokrasi ala Melayu dan mengidentikkan dengan Demokrasi Negara Malaysia—sistem pemerintahan demokrasi Malaysia. Padahal, hingga kini oposisi Melayu Islam yang dikenal dengan Parti Islam Se-Malaysia (PAS) masih tetap menjadi bagian oposisi dalam sistem politik di Malaysia—walaupun sebelum 1970-an PAS pernah menjadi bagian dari partai propemerintah.

Ini yang harus diklarifikasi oleh Effendi Simbolon agar tidak muncul kegelisahan golongan Melayu di Tanah Air ini. Bila memang Effendi Simbolon bukan mengartikan demokrasi ala Melayu ke gaya demokrasi Malaysia, lantas ke arah mana demokrasi ala Melayu— yang dinilai tidak memiliki idealisme—yang dimaksudkannya?

Apakah kita akan mengedepankan berbagai stereotip negatif yang selama ini umum dimengerti masyarakat kita dan menjadikannya pegangan dalam berpolitik seperti yang lakukan Effendi Simbolon. Misalnya ketika ada suatu aktivitas negatif dalam masyarakat, maka akan muncul; ”ah, suku itu memang begitu .” Tentunya bukan suasana pemikiran seperti itu yang diharapkan para founding fathers kita dalam negara Bhinneka Tunggal Ika ini.

Kita sangat tidak mengharapkan pola pikir yang kerdil ini meramaikan politik Indonesia, apalagi keluar dari mulut politisi partai berbasis nasionalis seperti bung Effendi Simbolon. Tulisan ini tentu bukan untuk menimbulkan perpecahan di antara kaum kita yang beragam dan multietnik. Tulisan ini diharapkan menjadi pengingat bagi Effendi Simbolon dan politisi mana pun yang memiliki pola pikir serupa.

Sebagai etnis Melayu, kami sangat menyesalkan cara berpikir Effendi Simbolon selaku doktor lulusan Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran. Pernyataannya seakan merendahkan kredibilitas cara berpikir dan kemampuannya dalam menganalisis fenomena politik nasional. Yang bersangkutan juga telah melukai hati sebagian besar masyarakat etnis Melayu, salah satu etnis pendiri bangsa ini.

EFFENDI SYAHPUTRA
Tokoh Muda Melayu

sumber: Koransindo