Pemuda Perindo Bedah Film Perjuangan Pemuda

Dalam rangkaian acara menyambut hari pahlawan nasional 10 November, sayap kepemudaan Partai Perindo, Pemuda Perindo menggelar Bedah film dibalik 98 dalam puncak acara.

Bedah film dibalik 98 ini dihadiri oleh para Narasumber pelaku sejarah dan aktifis 98, antara lain Dorry Herlambang, Tan Taufik Lubis, Vicky yang merupakan mahasiswa yang dalam kesehariannya berteman dengan korban Trisaksi 98.

Dalam Bedah yang di moderatori tokoh Muda jakarta Nurhasanuddin, dijelaskan oleh Dorry Herlambang, bahwa secara sinematografi film ini sangat luar biasa, cukup bagus namun disayangkan dari sisi konten sejarah sangat buruk.

“Sayang sekali sisi sinematografi tidak diimbangi dengan riset sejarah yang mempuni, sehingga film ini mengambang antara fiksi dan atau film sejarah, ini yang kemudian membuat banyak aktifis protes terhadap film ini” papar aktifis 98 yang akrab disapa Idoy.

Idoy yang juga merupakan teman satu fakultas Alm. Elang Surya lesmana juga menyatakan bahwa banyak setting di film ini tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya dilapangan, sehingga menurut Idoy film ini lebih pantas disebut sebagai film fiksi.

Aktifis 98, tan taufik lubis juga mengupas sisi sejarah bagaimana kemudian muncul gerakan reformasi 98 ini.

“Proses reformasi 98 ini adalah puncak dari persaingan militer yang sudah dibangun dari tahun 1970an, gerakan-gerakan civilisasi anti pemerintah ini sudah disetting dan dibangun dari berbagai ideologi namun memiliki satu musuh bersama yaitu Orde Baru” papar aktifis yang sering disapa Tolub tersebut.

Tidak berbeda dengan dua narsum diatas, Vicky mahasiswa design trisakti juga menjelaskan bahwa keadaan memang mencekam apalagi buat kaum minoritas seperti dirinya saat itu.

“Saat itu diskriminasi sangat kuat, dan saya sangat yakin itu memang disetting sehingga isu minoritas ini menjadi isu yang paling mudah digunakan untuk melakukan chaos atau kerusuhan” papar viki yang juga merupakan dosen design ini.