Opini : Kepahlawanan dan Kepemimpinan Pemuda

Bangsa yang besar adalah bangsa memiliki kisah heroik akan kebesaran para pejuang-pejuangnya dahulu yang menjaga kedaulatan dan harga diri bangsa dengan semua potensi diri terbaik yang dimiliki mereka sebagai anak bangsa, begitulah kira-kira suatu ungkapan yang pas untuk menyatakan bahwa Indonesia adalah satu dari sedikit negara yang mempunyai kisah-kisah kepahlawanan hebat ketika memerdekakan Bangsa dan mewujudkannya dalam satu Negara Merdeka yang berdaulat, ini sekaligus mempertegas bahwa negara kita, Indonesa didirikan dengan perjuangan yang tidak mudah dan penuh dengan kisah kepahlawanan yang luar biasa dan bukan merupakan pemberian sebagai hadiah dari bangsa penjajah.

Berbincang soal kepahlawanan Indonesia, maka tidak lepas dari peran kepemimpinan pemuda dimasa-masa pergerakan kemerdekaan Indonesia. Momentum pertempuran 10 November 1945 seakan menjadi simbolisasi faktual bagaimana para Pemuda turut serta secara masif dalam kisah perjuangan bangsa yang memakan banyak korban, darah dan airmata, ini semakin menjadi bukti bahwa Pemuda pada saat itu tampil menjadi pemimpin-pemimpin dalam memperjuangan kemerdekaan bangsa disetiap pelosok tanah air.

Membahas kisah heroik kepemimpinan muda maka kita semua bersepakat kalau Jenderal Sudirman merupakan contoh pembuktian sahih kepemimpinan anak muda ketika itu dalam mengawal perjuangan kemerdekaan dengan segala macam kehebatan strategi perang dan militer nya. Bangsa ini patut berbangga memiliki anak muda hebat seperti Sudirman, kemampuan kemimpinan dalam bidang militer dan seni tempur Sudirman mungkin menyamai kehebatan dan kemasyhuran Alexander the Great dari Macedonia ataupun Napoleon Bonaparte.

Dari sekian kisah yang di ceritakan para saksi maupun cerita-cerita fiksi termasuk pula kisah-kisah misterius yang sulit diterima akal sehat oleh kita tentang kehebatan Sudirman, tetap benang merah yang mengemuka adalah Bangsa ini punya kisah heroik kepemimpinan muda yang luar biasa dalam diri Sudirman yang tidak dimiliki bangsa-bangsa lain.

Pun jauh diwaktu kita sebelum merdeka, kita punya pahlawan pemimpin muda politik dalam diri Tan Malaka, beliau adalah “rules-model” bagi banyak anak muda tidak hanya di Indonesia namun di jagat dunia ini, ketokohan dan kepemimpinan serta kejeniusan nya dalam pola-pola pergerakan seakan menginspirasi setiap anak muda untuk berkiprah dalam dunia pergerakan.
Madilog dan Gerpoleg seakan menjadi “kitab” bagi gerakan-gerakan politik movement di dunia, Tan Malaka sudah menjadi anak muda Indonesia yang kemudian dikenang tidak hanya sebagai Pahlawan di Indonesia namun sebagai tokoh muda pembaharuan dunia. Seorang anak muda yang berusia 20an tahun namun telah terjun dan mendirikan sebuah partai politik berpengaruh, ini menjadi simbolisasi hebat nya kepemimpinan muda bangsa ini.

Sederat nama Soekarno, Hatta, Syahrir, Yamin, dan ribuan anak-anak muda di zaman perjuangan kemerdekaan juga merupakan fakta tak terbantahkan akan kehebatan para Pahlawan Pemimpin Muda tersebut.

Periode perjuangan kemerdekaan telah berlalu, Kepahlawanan Pemuda terus bergulir dari waktu ke waktu, pasca 10 November 1945, berturut-turut pemuda ikut andil besar dalam kisah kepahlawanan Revolusi 1965, Pergolakan 1974 dan 1979 dalam menetang Orde baru yang puncaknya adalah Pergolakan Reformasi 1998. Lagi-lagi dalam setiap periodenisasi tersebut muncul pemimpin-pemimpin baru bangsa dari kalangan Pemuda, ini menunjukan konsistensi anak muda yang hadir menjadi pemimpin yang berproses dan matang dalam pergerakan, meskipun sampai saat ini kita belum mampu bernostalgia dengan kehebatan-kehebatan pemimpin muda para founding father kita terdahulu.

Sangat disayangkan memang kalau disaat-saat sekarang ini kita tidak bisa melahirkan Soediman-soedirman muda, tan malaka-tan malaka baru, soekarno, hatta, syahrir, yamin generasi milenium dalam era digital dan serba modern ini, padahal inilah momentum emas bagi bangsa ini dengan panen nya jumlah generasi usia produktif di Indonesia.

dalam statistik ada kurang lebih seratus tujuh puluh lima juta generasi muda dari dua ratus lima puluhan juta warga Indonesia. artinya hampir tujuh puluh persen isi Indonesia ini adalah anak muda, inilah masa-masa yang disebut sebagai masa dengan Bonus Demografi, permasalahan nya apakah kita akan melewatkan begitu saja momentum hebat untuk bangsa kita ini?

Tercatat ada beberapa negara didunia yang telah berhasil memanfaatkan momentum bonus demografi ini untuk menjadikan negara mereka sebagai kekuatan yang di perhitungkan di Dunia, Jepang pasca kekelahan di perang dunia mereka mengalami bonus demografi, ditahun 1950-an mereka benar-benar memanfaatkan momentum ini untuk kembali bangkit sebagai salah satu negara berpengaruh di dunia. Di tahun 1970an Korea Selatan juga mendapat berkah bonus demografi, di tahun 1990an Tiongkok juga panen tenaga produktif, ketiga negara diatas benar-benar sukses memanfaatkan bonus demografi untuk menjadikan negara mereka menjadi negara maju dan sejahtera sampai saat ini, lalu sekarang giliran kita Indonesia, bisakah kita memanfaatkan momentum ini???
Kunci nya tentu ada dalam diri pemuda Indonesia.

kemajuan dan kesejahteraan bangsa ini dalam satu abad kedepan akan di pengaruhi oleh berhasil tidak nya Pemuda sekarang menjadi Pahlawan dan Pemimpin bagi kaum nya sendiri.

Saya memuji hebat statemen legendaris Soekarno bahwa “beri sepuluh pemuda yang membara cinta nya pada tanah air maka kita akan menguncang dunia”. para founding father kita seakan telah memprediksi bahwa Bangsa ini bisa jadi bangsa hebat di bawah Kepahlawan Kepemimpinan Pemuda, bukan tidak mungkin siklus setiap enam abad kejayaan nusantara akan terulang di generasi ini, setelah abad-8 kita berjaya lewat Sriwijaya, Abad-14 Majapahit menggetarkan dunia, lalu akankah Indonesia mengulangi kehebatan dalam siklus tersebut, di pundak Pemuda lah semua beban itu terpikul.

Selamat hari Pahlawan Nasional, Semoga terus muncul Pahlawan-pahlawan Pemimpin Muda bangsa.