Effendi Syahputra: Rakyat Harus Berani Lawan Peradilan Zalim

Sibolga, (Analisa). Tokoh muda Sumatera Utara yang juga pengacara, Effendi Syahputra menilai selama ini banyak masyarakat tidak mampu hanya bisa pasrah ketika dizalimi oleh proses peradilan yang tran­saksional. Fenomena ini menurut alumni Fakultas Hukum USU ini sangat mudah ditemui di tengah-tengah masyarakat kita.

Belajar dari pengalaman bertahun-tahun mengadvokasi dan memberi ban­tuan hukum kepada masyarakat dira­sakan Effendi sungguh mengkha­watirkan. Pasalnya, banyak masyarakat bawah cenderung menjadi korban atas peradilan transaksional yang dilaksana­kan hanya beorientasi pada wani piro.

“Banyak masyarakat kita yang tidak paham tentang hukum, termasuk hak-haknya ketika berperkara. Kebanyakan dari mereka hanya bisa pasrah pada putusan peradilan yang sangat banyak faktor transaksionalnya” ujar Effendi, Rabu, (29/6).  Ia mencontohkan pengalamannya baru-baru ini saat memberikan bantuan hukum kepada seorang warga Tapanuli Tengah yang sedang berperkara di Pengadilan Negeri Sibolga.

Kasus terkait proses eksekusi pengo­songan lahan di Jalan Sutan Singengu, Kelurahan Sibuluan Baru, Kecamatan Pandan, Tapteng. Saat itu Juru Sita Peng­adilan Negeri Sibolga hendak menyita lahan kosong seluas 8.000 meter persegi milik klien saya Lamsari Panggabean,” jelasnya.

Pemohon Eksekusi tersebut kata Effendi adalah Sofyan Jambak. Saat itu juru sita PN SIbolga didampingi ratusan petugas gabungan hendak mengeksekusi lahan tanpa menunjukkan bukti kepe­milikan Sofyan Jambak. Namun saat pro­ses eksekusi pengosongan lahan terse­but, pemohon eksekusi Sofyan Jambak, justru kebingungan alias tidak mengeta­hui, dimana lahan yang akan dieksekusi.

“Pelaksanaan eksekusi pengosongan lahan oleh Juru Sita PN Sibolga tehadap lahan milik Lamsari Panggabean tampak mencurigakan. Hal itu terlihat, ketika juru sita PN Sibolga meminta Sofyar Jambak selaku pemohon eksekusi untuk menunjukkan lahan yang hendak dieksekusi, namun Sofyan Jambak justru kebingungan, ini kan dagelan peradilan telah telanjang dipertontonkan PN Sibolga kepada kita” ujarnya.

Lucunya bukan Sofyan Jambak saja yang kelihatan kebingungan saat itu, namun juru sita PN Sibolga juga tampak seolah -olah turut kebingungan. Padahal Lamsari Panggabean, memiliki bukti berupa sertifikat kepemilikan tanah yang jelas. Ia menilai, eksekusi yang dilaksana­kan cacat hukum serta terkesan dipaksa­kan oleh ketua Pengadilan Negeri Sibolga yang akan sertijab dalam waktu dekat ini.

Terkait hal itu, Effendi Syahputra, SH menjelaskan, begitulah contoh tindakan peradilan sesat yang hanya berorientasi pada wani piro. Terkait hal itu Effendi akan melaporkan kasus ke Mahkamah Agung. “Secepatnya akan kami laporkan kelakuan ketua Penga­dilan Negeri Sibolga itu ke Mahkamah Agung,” tegasnya.

Sumber: Harian Analisa