Dinasti dan Etika Politik Menuju Pilgub Banten

Hiruk pikuk Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2015 baru saja selesai. Banten menjadi salah satu provinsi yang turut meramaikan pagelaran “kenduri politik” Pilkada 2015 tersebut. Menarik, dari empat kota/kabupaten di Provinsi Banten yang mengikuti Pilkada, tiga di antaranya dimenangkan oleh calon yang masih memiliki kekerabatan keluarga. Mereka adalah Ratu Tatu Chasanah (Bupati Serang), Tanto Warsono Arban (Wakil Bupati Pandeglang), dan Airin Rahmi Diany Walikota (Tangerang Selatan). Ketiganya bertemu secara hubungan kekeluargaan dengan Ratu Atut Chasiyah, eks Gubernur Banten yang terjerat kasus Korupsi Pilkada Lebak, dan kini mendekam di penjara.

Kasus korupsi yang menjerat Ratu Atut seolah tak berpengaruh sama sekali terhadap perolehan suara sanak keluarganya yang mencalonkan diri di Pilkada 2015. Hal ini pula disampaikan oleh Ratu Tatu, adik kandung Ratu Atut. Bahwa ia berkeyakinan “sumbangsih” ayahnya, Haji Chasan Sochib masih melekat tajam di benak masyarakat tanah para jawara tersebut. Sehingga prilaku korup Ratu Atut tidak otomatis menurunkan kharisma keluarga besar Haji Chasan Sochib di mata masyarakat Banten.

Terlepas dari kasus Ratu Atut, kepercayaan yang begitu tinggi dari masyarakat Banten ini haruslah dijaga dengan baik. Ratu Tatu, Tanto Warsono, dan juga Airin Rahmi harus mampu mengemban kepercayaan ini di wilayahnya masing-masing. Sumpah jabatan yang dibaca saat pelantikan bersamaan dengan ucapan dua kalimat syahadat nantinya, harus dijalankan dengan amanah. Salah satu poin penting dalam sumpah jabatan adalah siap menjalankan amanah selama satu periode, yakni lima tahun masa bakti terhitung dari tahun 2016 hingga 2021.

Hal ini yang harus disorot dan diamati oleh seluruh elemen masyarakat di Banten. Kemenangan di tiga Kota/Kabupaten oleh kerabat Ratu Atut  ini berpotensi dimanfaatkan untuk meraup kemenangan “aji-mumpung” di Pemilihan Gubernur (Pilgub) Banten yang dihelat pada tahun 2017 mendatang. Adalah euforia ala Jokowi, yang setelah sukses menduduki kursi Gubernur DKI Jakarta, langsung mencalonkan diri sebagai presiden sebelum masa baktinya sebagai Gubernur di Jakarta habis. Keberanian Jokowi melangkah ke kursi Istana ini bukan tanpa perhitungan matang. Jokowi memanfaatkan peluang bahwa popularitasnya sedang naik di mata masyarakat. Ini terbukti dengan kemenangannya yang bagi sebagian orang sudah diprediksi jauh hari sebelumnya.

Kembali ke Banten, Perlu diketahui Airin Rahmi sang walikota “cantik”  ini terpilih sebagai Walikota Tangsel untuk kedua kalinya di Pilkada 2015 ini. Sehingga kemungkinan terbesar dari ketiga pemimpin daerah yang berasal dari satu keluarga Haji Chasan itu, Airin Rahmi lah yang berpotensi melaju di Pilgub Banten, melanjutkan karir Ratu Atut sebagai pemimpin Banten. Hipotesa ini juga didukung  melihat popularitas tinggi Airin di Tangsel sendiri,  Ditambah pula pengalaman kerja Airin yang cukup “moncer” selama memimpin Tangsel.

Secara formal, Airin bisa saja melenggang santai mencalonkan diri untuk Pilgub Banten. Mekanismenya, cukup dengan menyatakan undur diri sebagai walikota melalui surat yang dilayangkan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Tangsel sebelum mendaftarkan diri sebagai Calon Gubernur. Itu mudah sekali, dan melihat dari segala kemungkinan seperti nya Airin bisa menjadi penantang yang diatas angin untuk berhadapan dengan figur Rano “Si Doel” Karno yang sedang tertimpa isu negatif soal korupsi maupun nama-nama lain yang secara elektabilitas tidak semasif figur Airin yang mulai dicintai tidak hanya sebatas warga tangsel namun penampilan nya yang “santun” dan “menyejukan” mulai mengambil hati warga seantero Banten.

Permasalahan yang paling mungkin menghadang jalan mulus Walikota Cantik ini hanyalah pada masalah Etika. Sumpah jabatan memimpin selama lima tahun merupakan perjanjian sakral yang seharusnya  tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Kepercayaan masyarakat Tangsel yang diberikan kepada Airin bukan layaknya permen karet yang bisa dilepehkan begitu saja. Airin terlanjur di cintai oleh masyarakat Tangsel, Oleh karena itu tegakah Airin meninggalkan pos nya sebagai pemimpin yang dicintai di Tangsel?

Bila berkaca pada Ridwan Kamil Walikota Bandung yang emoh berlaga di Pilgub DKI Jakarta 2017 dan lebih memilih menyelesaikan masa jabatan nya sebagai Walikota, juga demikian hal nya dengan Risma di Surabaya yang juga menyatakan tidak akan ikut-ikutan menantang Ahok dalam pilgub DKI jakarta, maka secara bijak Airin bisa mengikuti dua jejak pemimpin yang dicintai warga nya tersebut untuk menyelesaikan dulu masa bhaktinya di Tangsel. Jika amanah lima  tahun terakhir ini sudah dijalankan, maka langkah selanjutnya secara etika akan lebih mudah buat Airin untuk meniti lanjutan karir politiknya, kesabaran Airin memang akan di uji dalam hal ini, namun ada satu sisi “penggoda” kuat yang menanti didepan nya yang bernama Momentum. Momentun untuk tampil disaat populeritas dan elektabilitas nya memang sedang baik-baiknya.

Bagi saya, Airin harus menjadi contoh langka lainnya kepada Indonesia selain dua sosok yang saya sebut diatas (Ridwal Kamil dan Risma), bahwa dia adalah teladan pemimpin yang dicintai warganya namun tidak terobsesi dengan kepentingan pribadi untuk berkuasa walaupun momentum membuka karpet merah buat diri nya melangkah ke tempat “berkuasa” yang lebih tinggi.

Saya percaya, sakral nya sumpah jabatan masih akan membuat Airin bertahan untuk Tangsel yang dicintai dan mencintai nya sampai lima tahun kedepan, kendati godaan yang bernama momentum itu bisa saja membuyarkan harapan begitu banyak masyarakat Tangsel.